Tampilkan postingan dengan label Nightfall Kiss. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nightfall Kiss. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2020

Nightfall Kiss - Chapter 7

Berjalan di lorong-lorong rak bahan kue, Edward berbelanja bahan untuk toko pamannya, sudah mulai terbiasa melakukan tugas belanja itu sendiri. Edward benar-benar menenggelamkan dirinya dalam kesibukan, mempelajari setiap detail pendukung usaha pamannya, dan memastikan bahwa dia menguasai hal-hal itu dengan benar. Edward seakan haus pada ilmu dan ambisi. Betul, dia penuh dengan ambisi saat ini, tapi bukan untuk belajar. Semua orang tau, Edward sangat suka belajar hal baru, jadi sebuah 'ambisi' tidak perlu dibubuhkan pada semangatknya untuk belajar. Edward punya ambisi, ambisi untuk memenuhi otak dan hatinya dengan apapun itu dan memastikan tidak ada celah baginya untuk memikirkan Rose.

Tentu saja, itu sesuatu yang mustahil. Di saat sepi dan sendirinya, Edward mengais-ngais rasa rindu. Menghindari keputusasaannya, Edward sering habiskan malam akhir pekannya di bar. Alih-alih terhindar rasa rindu, Edward semakin larut dalam kesepian. Edward sangat berhati-hati untuk tidak membuat dirinya mabuk dan kehilangan arah, dia tidak mau membuat pamannya kecewa.

Melewati malam di bar, bukan tidak mungkin Edward tidak menarik perhatian para wanita. Sebagai orang Indonesia, Edward memiliki wajah yang tampan. Tubuhnya yang kekar dan kulitnya yang coklat bersih, sangat mungkin sekali untuk membuatnya mendapatkan wanita dengan mudah. Banyak wanita yang berkenalan dengannya, ada Corin, Samantha, Elise, Joey, dan masih ada beberapa lagi yang lain, namun tak satupun di antara mereka yang membuatnya nyaman. Menurutnya, mereka semua sama, wanita-wanita liar yang menyukai dunia malam. Dan seperti pada suatu malam, ada seorang wanita yang mencoba mencuri perhatiannya.

"Hi...," sapa wanita itu, yang berdiri dengan cantik, menunjukkan kemolekan tubuhnya yang langsing dan tinggi. Dia memiliki rahang tegas khas wanita Perancis.

"Oh, hi...", jawab Edward sekenanya.

"Sendiri?"

"Iya", Edward benar-benar malah untuk berbicara. Buatnya, malam seperti ini adalah saat untuknya mengenang Rose.

"Boleh duduk di sini?", Amber menunjuk bangku kosong di samping Edward.

"Tentu".

"Aku Amber"

"Edward"

"Hmm... tinggal di sekitar sini?"

"Iya"

"Oh, aku juga, aku tinggal di sebuah flat tak jauh dari sini"

"Oh..."

"Aku bekerja di dekat sini juga, kantor media, jadi aku cukup sering mengunjungi tempat ini bersama teman-teman kantor. Tinggal sendiri di sebuah kota asing untuk bekerja, membuatku hanya berteman dengan teman-teman kantor saja. Membosankan".

"Hmmm..."

"Kalau kau Edward?"

"Aku?", Edward sedikit kaget mendapat pertanyaan itu. Biasanya, wanita akan langsung tersinggung ketika dia bicara panjang lebar soal dirinya dan hanya mendapatkan sebuah gumaman sebagai balasan.

"Iya, kamu".

"Aku di toko kue".

"Toko kue? Kau bercanda!"

"Tidak, aku serius. Aku bekerja di toko kue pamanku".

"Wah! Menarik. Orang yang melihatmu pasti akan mengira bahwa kau adalah seorang pekerja kantoran yang bekerja dengan setumpuk data dan sangat memuja kerapian", Amber tertawa kecil mendengar kata-katanya sendiri.

"Hmm...", gumam Edward lagi.

"Maaf, bukan maksud menyinggung. Maksudku, kau terlihat sangat rapi. Maksudku, kau seperti 'orang rapih', kau tau, kan?", Amber tertawa lagi.

"Memang pekerja toko kue tidak boleh rapi?"

"Oh, bukan, bukan. Tentu saja boleh. Aku katakan, bukan maksudku menyinggungmu. Hanya saja, gayamu memang 'rapi'. Tentu, tentu, kau tidak dilarang untuk berpakaian rapi, tapi biasanya orang seperti mereka akan terlihat 'lebih santai'", Amber mengatakannya dengan serius, dan ada nada rasa bersalah di kalimatnya. Edward menahan senyum, merasakan kepanikan di kata-kata Amber.

"Aku benar-benar tidak ingin menyinggungmu", Amber mengulangi.

"Hahaha, sudahlah... itu bukan hal penting", akhirnya Edward melepaskan tawanya.

"Uh, aku lega kau tertawa".

"Kenapa?"

"Serius. Aku kira kau benar-benar akan tersinggung dengan itu".

"Oh, tidak. Bukan masalah".

"Aku penasaran. Kau sepertinya bukan berasal dari sini, kan? Tapi bahasa Perancismu baik sekali!"

"Iya. Aku orang Indonesia, pamanku yang asli sini, sejak aku kecil sudah diajarinya berbahasa Perancis"

"Wow! Keren. Indonesia? Dekat dengan Bali?"

"Tidak, tidak. Bali ada di dalam Indonesia. Indonesia itu negaraku, dan Bali adalah salah satu tempat indah yang dimiliki Indonesia", Edward sudah sangat hafal jika banyak orang yang lebih mengenal Bali. Edward sendiri juga suka Bali.

"Oh, itu artinya masih banyak tempat lain yang cantik di Indonesia?"

"Tentu saja", jawab Edward.

"Kau bilang, toko kue itu milik pamanmu. Di mana itu?"

"Tidak terlalu jauh dari sini juga"

"Apa nama tokonya? Mungkin lain kali aku akan mampir"

"Uncle Jo's. Toko Roti Uncle Jo's"

"Kau bercanda!"

"Tidak"

"Itu adalah toko kue favoritku. Aku selalu meminta staff adminku untuk membeli cinnamon rolls kesukaanku di sana! Untuk aku sarapan!"

"Ya, ya, ya. Cinnamon Rolls memang best seller di toko kami"

"Tentu saja! Itu enak sekali. Tapi mungkin selanjutnya, staff adminku tidak akan lagi kuminta untuk ke sana"

"Kenapa? Kau mau pindah?"

"Tidak. Tidak."

"Lalu? Kau menemukan cinnamon rolls lain yang lebih enak? Di mana itu?"

"Tidak juga"

"Lalu?"

"Karna selanjutnya, aku sendiri yang akan ke tokomu untuk mendapatkan Cinnamon Rolls-ku"

Nightfall Kiss - Chapter 6

Oh every time I close my eyes 
I see my name in shining lights 
A different city every night oh
I swear the world better prepare
For when I’m a billionaire

Lagu ceria Bruno Mars mengalir dari sebuah speaker kecil. Rose bergerak ke sana kemari sambil menggoyang-goyangkan badannya mengikuti nada lagu. Rok berbahan ringannya hari ini ikut bergoyang seirama tubuhnya. Sepotong gaun berbahan ringan dan tipis warna peach selutut dia pilih untuk menemani harinya. Bukan gaun yang terbuka dan vulgar, hanya gaun terusan selutut dengan potongan lengan sebahu, untuk hari ini. Kalung tipis emas putihnya yang bermata blue saffire kecil, semakin membuatnya cantik.

Hari ini penting buat Rose. Rencana bisnisnya sudah matang dan dia akan mempresentasikan itu pada Lian. Rose sengaja meminta sahabat cantiknya itu untuk bertemu di sebuah coffee shop di daerah tengah kota. Lian, yang tidak suka mengeluarkan uang hanya untuk nongkrong, protes keras dan mengatakan kalau bisa dibahas di rumah saja. Tapi Rose punya alasan khusus, dia ingin lebih professional dan berbicara seperti rekan bisnis sekaligus kawan, bukan kawan saja atau rekan bisnis saja.

"Hai, Lian. Kamu di mana?", Rose berbicara melalui iPhone-nya.

"On my way, sweetheart...".

"Sudah tau tempatnya, kan? Kita ketemu di sana saja, ya?"

"Oke, cantik. See you there, then".

Memakai sepatu warna senada dengan gaunnya, Rose menenteng berkas-berkas, map, dan tabletnya memasuki mobil. Ditemani Pak Iming, sopir ibunya, Rose berangkat ke coffee shop.


*****

Coffee shop ini tidak terlalu besar, terletak di dalam sebuah perumahan di daerah tengah kota. Tempat yang nyaman dan tidak terlalu dekat dengan jalan raya, terhindar dari bisingnya suara kendaraan, membuatnya cocok sebagai tempat pertemuan. Bagusnya lagi, letak perumahannya berada di belakang ruko-ruko perkantoran, para pekerja bisa mengajak partner bisnis bertemu dan tidak jauh dari kantor. Dikelola dengan sangat apik oleh dua kakak beradik muda yang keduanya menyukai otomotif tua, tempat ini berkonsep semi industrial yang modern.

Perabot meja dan kursinya menggunakan kayu muda yang menunjukkan serat alami dari kayunya. Beberapa kursi terbuat dari drum yang ditutupi dengan bahan jok sepeda sebagai bantalan. Hiasan dinding berupa gambar-gambar motor dan mobil beserta model cantiknya dari tahun 70an dan 80an bersanding cantik dengan spare part motor dan mobil yang digantung acak. Tidak melulu kaku dengan 'kelaki-lakian'nya, coffee shop ini memberikan sentuhan feminin dengan tanaman-tanaman cantik yang tersebar di setiap sudut dan sisi ruangan. Rerumputan yang ditata apik dalam pot keramik bergantung di rak-rak kayu, bunga-bunga matahari dalam pot-pot kecil yang memberi warna di antara hiasan buku-buku tua, taman-taman kecil di dalam dan di luar ruangan yang berpadu cantik dengan kolam atau air mancur bergaya victorian, membuat sejuk setiap mata yang memandang. Rose sangat menyukai perpaduan konsep ini. Sungguh menginspirasi, menurutnya. Tempat yang dia suka untuk sekedar duduk membaca buku atau mengerjakan blog-nya. 

Rose memilih tempat di ujung dekat jendela bening besar yang menghadap taman belakang yang hijau dan menyejukkan. Mengeluarkan dan menumpuk berkas-berkas dan tabletnya, Rose memancing perhatian siapa saja yang tidak sengaja melihatnya. Gayanya yang anggun, dengan gaun cantiknya, berpadu indah dengan rambut hitam panjang lurusnya yang dibiarkan tergerai. Lian sedikit datang terlambat karena harus mampir ke pabrik, mengambil beberapa barangnya yang tertinggal.

Sembari menunggu, Rose membuka notes di tabletnya. Suasana ini memberi dia kesempatan untuk meluapkan kata-kata yang menari dalam otaknya menjadi puisi. Rose memiliki sebuah akun blog yang cukup aktif dan inspiratif dengan tulisannya. Puisi yang kadang mendayu-dayu merajuk cinta atau yang sedikit keras dan tajam memprotes dunia. Akhir-akhir ini Rose memilih untuk menyimpan sendiri tulisannya dibanding membagikannya lewat blog. Dia ingin dunianya sedikit lebih 'sepi' untuk membangun semangat barunya. 

Lian datang setelah Rose menyelesaikan dua sajaknya. 

"Hai!", sapa Lian.

"Heiiiii ... Sudah ambil barangnya?"

"Sudaaah. Maklum lah, kawanmu ini kan pelupa".

"Dasar! Buat pesanan dulu sana... Red Velvet Latte-nya enak".

"Hmmm ... boleh. Tunggu yaa..."


Lian, sahabat Rose yang penggembira itu beranjak untuk membuat pesanannya. Perempuan cantik, sahabat Rose dari masa kecil. Tidak seperti Rose yang memiliki postur sedikit berisi, Lian adalah sosok yang tinggi dan semampai. Baju apapun yang dikenakannya pasti akan terlihat pas di tubuhnya. Wajahnya cantik, mata yang tidak terlalu bulat atau terlalu sipit, hidung mancung khas Asia, bibir kecil namun berisi, dan kulitnya yang putih khas keturunan oriental membuat dia selalu jadi pusat perhatian pria di sekitarnya. Tidak menyadari atau tidak mau menyadari, Lian selalu acuh dengan perhatian yang diberikan para pria untuknya.

Kembali dengan segelas minuman di tangannya, Lian duduk santai berhadapan dengan Rose.

"So, mau bicara soal apa kita?", tanyanya tanpa basa-basi pada Rose.

"Jadi sebetulnya, aku punya rencana bisnis yang akan aku jalankan di kota ini, persis seperti yang kukatakan padamu beberapa waktu lalu".

"Tunggu, sebelum kau bicara mengenai rencana bisnismu, ceritakan padaku apa yang terjadi, sampai kau pulang tiba-tiba dan mantap untuk tinggal di sini?"

Rose menarik nafasnya dalam-dalam. Sahabatnya ini adalah selalu menjadi orang pertama untuk mendengar keluh kesahnya. Dia tidak berniat menyemnyikan masalahnya kali ini pada Lian, tapi Rose menghindari untuk berbicara tentang Edward. Itu membuat hatinya semakin sakit.

"Tentu saja bisnis! Langkah baru, hidup baru! Aku ingin menjadi boss!", dengan memasang muka seceria mungkin, Rose mencodongkan tubuhnya dan mengecilkan suara saat mengatakan itu, seolah-olah pembicaraannya adalah pembicaraan antar detektif dan saksi di fim cowboy.

"Luar biasa memang kawanku satu ini", beruntung, Lian tak curiga dan berhenti bertanya tentang sebab keputusannya kembali ke kota ini.

Membuka tabletnya, Rose memulai presentasi bisnis pada sahabatnya, "Rencanaku sederhana Lian, menggabungkan kesukaanku dan bisnis. Kue! Kau tau kan betapa sukanya aku menikmati kue?"

"Toko kue? Seperti milik ibumu?"

"Mirip, tapi bukan. Toko kue Ibu memang sukses dan berjaya, tapi itu sudah kuno. Kau lihat kan yang datang di sana kebanyakan para Nyonya? Target kita adalah usia yang lebih muda, seperti kita Aku ingin sesuatu yang baru dan aku rasa di kota ini belum ada. Aku, dengan bantuanmu, akan memulainya".

"Dan bagaimana itu?"

"Sederhana. Lihat coffee shop ini. Apa yang menarik? Kopinya? Lokasinya? Bukan. Kita bicara mengenai inovasi. Yaa atau kalau tidak bisa disebut dengan inovasi, kita sebut 'kreativitas'!"

"Apa sih? Bikin penasaran banget..."

"Jadi, as I told you before targetku adalah pasar untuk usia muda. Kamu lihat, di kota ini, toko Ibu memang sudah punya nama, terkenal dan bahkan jadi buah tangan wajib untuk orang yang ke kota ini. Tapi lihat lagi, toko Ibu sudah kuno! Lihat siapa yang ke sana? Oma-oma dan Opa-Opa. Sekarang coffee shop ini, kenapa menu utamanya kopi saja bisa buat tempat ini menarik? Itu soal 'gaya', Lian!"

"Hmmmm...", Lian memperhatikan sekeliling, mengedarkan pandangan kembali ke coffee shop itu, dan berkata, "Kamu mau buat yang seperti ini? Waah, perlu modal dan biaya besar loh..."

"Tidak perlu yang sebesar ini, lah... Sini, coba liat rancangan bisnisku," Rose mempresentasikan rencana-rencananya pada Lian melalui tabletnya, dan dalam beberapa saat mereka sudah sibuk dengan pembicaraan dan perdebatan.

Rose sudah hampir-hampir lega mengingat Lian sudah sangat berkonsentrasi pada rencana bisnisnya, ketika sebuah pertanyaan dari Lian kembali menusuknya,

"So? What happened actually?", tanya Lian.

"What happened 'what'?", jawab Rose, berpura tidak mengerti maksud Lian.

"Jangan jadikan bisnis ini alasanmu untuk menghindari bicara denganku. Iya, kuakui rencanamu luar biasa. Tapi apa alasan di balik semua ini? Kenapa tiba-tiba sekali? Apa yang sudah terjadi padamu?"

"Liaaaan! Kau tau aku, kan? Ini tidak mendadak atau tiba-tiba seperti yang kamu bilang. Aku sudah merencanakan ini sejak lama, kok..."

"Oh, tentu! Aku tau kamu. Aku tau kamu pintar, cerdas, dan sangat kreatif, tapi aku juga tau kamu pandai sekali menyembunyikan sesuatu".

"Sesuatu apa?", Rose mulai lelah menjawab berputar-putar, tapi dia juga masih terlalu malas untuk bercerita. Lian yang mengerti Rose perlu waktu 'lebih lama' untuk bercerita tidak lagi memaksanya untuk berbicara.

Rose bukan hanya perlu waktu 'lebih lama' untuk bercerita, di hatinya, di pikirannya, Rose perlu waktu yang 'cukup lama' untuk mencerna masalahnya, dan perlu waktu 'sangat lama' untuk menyembuhkan lukanya. 

Minggu, 17 Januari 2016

Nightfall Kiss - Chapter 5


"Ed, hari ini kamu ikut aku belanja bahan untuk toko ya? Persediaan sudah mulai menipis", kata Paman Joe pada Edward.

"Iya. Beritahu aku kalau Paman mau berangkat".

"Oke. Bersiap-siaplah".


******

Hari cukup cerah untuk belanja bahan. Menggunakan truck tua terbuka, Edward dan pamannya berangkat untuk berbelanja.

"Toko bahannya di mana, Paman?" tanya Edward memecah sepi.

"Tidak seberapa jauh, sekitar dua puluh menit mengemudi dari toko kue kita".

"Toko kue Paman Joe", ralat Edward.

"Apa bedanya? Kamu sekarang juga bekerja di sana kan? 'Toko kue kita' kalau begitu", jawab Paman Joe dengan tawa jail pada Edward.

"Haha. Dasar. Paman selalu saja bercanda. Kalau tidak jauh, kenapa Paman tidak minta dikirim saja ke toko?"

"Hemm, coba tebak?"

"Karena kau juga ingin jalan-jalan?"

"Nope. Memilih bahan untuk komposisi kue adalah hal penting. Harus yang paling baik kualitasnya. Aku tidak mau menyerahkan begitu saja pada orang lain".

"Bukankah setiap bahan mentah memiliki grade? Tinggal kau minta saja grade yang paling baik. Bisa, kan?"

"Tidak semudah itu. Kau tau? Di antara begitu banyak berlian dan batu permata yang mahal harganya, ada saja batu permata yang cacat, bukan?"

"Ya, tapi cacat itu akan mengurangi harganya?"

"Tentu. Tapi kita berhubungan dengan makanan. Harus benar-benar yang terbaik. Tidak ada cacat ataupun kurang. Makanan berhubungan langsung dengan hidup. Makan untuk hidup, kan? Bukan hidup untuk makan".
"Aku mengerti. Tapi, kau tidak mungkin terus menerus memilih bahan dengan tanganmu sendiri, kan? Seiring berjalannya waktu, tokomu akan menjadi besar, kau akan sangat kepayahan bila harus memilih dan belanja bahan terus".

"Maka dari itu, aku mengajakmu, Ed. Kamu nanti yang akan melakukannya jika aku kepayahan. Haha..."

"Woow, wooow. Tunggu. Tunggu. Maksud Paman? Kau bercanda! Kau pasti tidak serius..."

"No, Edward. Aku tidak pernah tidak serius dengan toko kue".

"Tapi kenapa aku?"

"Sudah jelas kan? Karena aku percaya padamu dan kau pun juga mencintai bidang yang sama. Siapa lagi kandidat yang lebih baik? Nah, itu toko bahannya. Kita parkir di sini dan berjalan ke sana. Come on!"


*****


Memasuki toko bahan kue, kenangan seperti film bermain di kepalanya. Gadis itu, Rose, kasih pujaannya yang juga peremuk hatinya, sangat suka memasak dan membuat kue. Edward selalu dimintanya untuk menemaninya belanja, mengikutinya dari belakang, dengan dua keranjang belanja berbeda. Satu untuknya, dan satu untuk Rose, kemudian mereka akan membuat makanan masing-masing dan bertukar untuk saling memberi komentar.

"Ed? Edward!", suara Paman Joe membuyarkan lamunannya.

"Oh, eh, iya. Ada apa? Mana lagi yang harus kuambil?"

"Kau ini! Aku sudah memanggilmu berulang kali. Dan kita belum mengambil apa-apa, Ed. Kau itu melamunkan apa?"

"Ah, tidak. Ayo, Paman. Tunjukkan padaku, kiat jitumu memilih bahan".

Mendorong kereta belanja yang besar, Edward mengikuti pamannya. Dengan tekun Edward mendengarkan dan berusaha mengingat apa yang diajarkan pamannya. Dalam hati dia berjanji akan membawa catatan untuk mencatat lain kali.

"Memilih bahan itu seperti memilih wanita, Ed. Kau harus memilihnya sendiri, dengan matamu, tanganmu, dan hatimu. Pilih yang terbaik bukan yang termahal. Pilih yang paling pas bukan yang bermerek. Pilih yang meyakinkan bukan yang sekedar ikut-ikutan".

"Oke, Paman. Tapi kalau dengan tanganku, aku harus berhati-hati. Salah-salah aku malah ditampar".

"Wanita, kalau sudah percaya padamu, akan dengan sendirinya untuk rela disentuh. Bukan begitu?"

"Ya...", pikiran Edward langsung berpergi jauh pada bayangan Rose. Dia merindukannya. Gadis mungilnya, yang menguasai hati dan pikirannya. Dia merindukannya, sangat merindukannya. Ya, rindu disentuhnya dengan jari yang lembut.

"Hei, Ed! Kau melamun lagi!", tegur Paman Joe.

"Oh, ya, eh, maaf. Hehe".

"Kenapa? Ada apa denganmu? Apa yang kau pikirkan?"

"Nope. Tidak apa-apa. Lupakan. Ayo kita pulang, Paman. Semua yang ada di daftar belanja sudah terambil, kan?"


*****


Berbaring di tempat tidur, Edward membuka iPhone miliknya. Berita-berita tentang dia yang kabur dari rumah masih dibincangkan di media-media lokal negaranya, tapi tak segencar ketika pertama kali dia pergi. Media terlalu mengada-ada. Ada yang bilang dia kawin lari, seandainya bisa, wanitaku saja tak mau, ada yang bilang karena dia tidak mau diwarisi perusahaan, Bodoh, mana mungkin aku tidak mau?. Tidak ada pesan masuk dari Rose, Edward mengeluh. Sudah lama dia menunggu kabar dari Rose. Apa yang kau pikirkan tentang berita-beritaku di sana, sweetheart?  Edward mulai mengetik pesan untuk Rose, menunggu kabar dari perempuan seperti menunggu bus bisa terbang.

To: Rose
Hi, Rose.
Bagaimana kabarmu?
Ak....

Edward berhenti mengetik dan kemudian menghapusnya. Percuma. Bagaimanapun dia akan berusaha, apapun yang akan dilakukan, tidak akan bisa merubah keadaan. Rose adalah adiknya. Mereka disatukan tali darah persaudaraan oleh ayah mereka, Frans Wijaya. Tidak mungkin bila mereka memaksa bersatu.

Tapi aku ingin tahu kabarnya dan aku merindukannya. Sial. Sial. Sial. Aku harus bagaimana? Edward memukul-mukulkan iPhone ke kepalanya. Blog. Rose punya blog. Dia biasa menulis di sana. Aku bisa melihat kabarnya dari sana.

Namun di blog itu tidak ada sesuatu yang berarti. Rose tidak menuliskan isi hatinya, hanya ulasan-ulasan mengenai tempat makan yang ada di sana. Tanggal ulasan terakhirnya adalah beberapa hari sebelum Edward meninggalkan negaranya.  Itu berarti sudah lebih dari satu bulan.
Aneh, Rose biasanya selalu mengupdate blog-nya seminggu dua kali. Kenapa dia tidak mengisi blognya, sebulan terakhir ini? Apa kabarmu, sweetheart?

Bersambung ke Chapter 6

Minggu, 08 November 2015

Nightfall Kiss - Chapter 4



"Non, teh nya sudah siap," suara Mbok Mei membangunkannya dari lamunan. "Iya, Mbok. Makasih," jawab Rose. Dengan berbekal laptop dan ponsel, Rose berjalan menuju halaman belakang.

Halaman belakang itu sederhana, tidak banyak ornamen seperti air mancur berbentuk cupid ataupun kolam renang, hanya sebuah halaman yang ditutupi rumput hijau rapi terawat. Beberapa jenis bunga tertata apik di pinggiran halaman, tentu saja warna-warna dari bunga mawarlah yang paling mencolok. Sebuah ayunan kayu, yang cukup besar ukurannya, berwarna putih diletakkan miring di pojok halaman adalah tempat favorit Rose untuk bersantai. Dengan kanopi berwarna hijau muda dan beberapa bantal peluk berwarna senada membuatnya selalu mengundang untuk diduduki. Jika tidak ingin berayun, Rose bisa duduk di serambi. Ada sebuah meja kecil dan dua bangku rotan berbentuk setengah lingkaran mengapit di kanan kirinya.
Membawa laptop dan ponselnya, Rose naik ke atas ayunannya. Angin berhembus sedikit kencang, menerbangkan bawah gaunnya, hingga tersingkap melihatkan sebagian pahanya.

'Ting', ada pesan masuk di ponselnya.

From: Mom
Mbok telpon, kamu di rumah ya?
Kok tiba-tiba?
Kamu baik-baik, sayang?
Tunggu ya, sebentar lagi Ibu pulang.

Aku tidak baik, Bu. Batin Rose.

To: Mom
Aku baik, Bu.
Kejutan!!
Kangen sama rumah, Bu...
Cepat pulang, ya.. Rose kangen.
Rose tunggu di rumah.

Mom :
Oke.

Meletakkan ponsel pintarnya di atas bantal, Rose membuka laptopnya. Banyak hal yang harus ia kerjakan, ia berencana membuka usaha di kota kecil ini. Bidang yang sama dengan toko milik Ibunya, tapi Rose ingin memberikan sentuhan kekinian pada usahanya nanti. Rencana bisnis sederhana telah ia susun untuk menuangkan ide bisnis miliknya. Beberapa riset mengenai pasar dan keuangan masih perlu dilakukannya untuk mendukung rencana ini, tapi Rose tidak terburu-buru. Rose ingin rencana usahanya benar-benar matang, selain itu Rose masih ingin memulihkan pikirannya yang penuh dengan kejadian-kejadian di hidupnya belakangan ini.

Lelah dengan pemikiran rencana bisnisnya, Rose berselancar di dunia maya. Jika gadis-gadis lain biasa membuka situs untuk fashion dan kecantikan, Rose biasa membuka website yang memuat berita-berita terbaru. Dia suka membaca informasi unik dari sesuatu, yang kadang tidak dikira orang itu informasi yang penting. Namun, pemikiran untuk mendapatkan informasi yang unik dan terbaru membuatnya memiliki wawasan yang cukup luas, yang terkadang orang lain belum tau.

Halaman utama situs itu selalu menghadirkan informasi terbaru dari selebriti dunia. Rose menggeser kursornya ke bawah. Satu demi satu headline dia lewati. Tidak ada yang menarik, kata Rose dalam hati. Pernikahan mewah, perceraian, pacar baru, informasi pribadi yang seharunya bukan untuk publik. Pembodohan!, batin Rose. Namun sebuah headline menarik perhatiannya, matanya melebar melihat headline tersebut.

Edward Nugraha, Putra Pengusaha Sukses Frans Wijaya, Minggat dari Rumah.

Dengan perasaan tak menentu, Rose membuka berita itu. Di sana diceritakan bahwa Edward, menurut kepolisian, sengaja meninggalkan mobilnya begitu saja di pinggir jalan dan sudah tidak pulang seminggu. Keluarga dan pihak berwajib sedang berusaha melacak keberadaannya, sampai berita itu dirilis, belum ada konfirmasi dari keluarga Frans Wijaya. Di berita itu juga tertulis bahwa hari perginya Edward dari rumah adalah hari dimana Rose memutuskan untuk meninggalkan Edward dan kota tempat dia bekerja.

Rose menutup berita itu dengan perasaan gelisah. Ke mana kau, Ed? Apa kau baik-baik saja. Maafkan aku, Rose berbicara dalam hati. Suasana hati Rose seketika menjadi buruk. Dengan gelisah, Rose mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi Edward.

To: Edward
Ed, kau di mana??
Apa kau baik-baik saja?

Rose menimbang-nimbang untuk menekan send, hatinya bimbang. Ah, tentu keluarganya sudah berusaha menghubunginya. Ini juga bukan urusanku, batin Rose.

Pada akhirnya Rose menghapus pesan untuk Edward.

*****

"Rose?" suara seorang perempuan membuyarkan lamunannya.

"Eh, Lian! Hai, apa kabar? Aku merindukanmu!" seru Rose sambil melompat berdiri saking senangnya. Lian adalah sahabatnya sejak kecil, kemanapun mereka pergi selalu berdua. Hanya ketika Rose kerja di kota yang besar, mereka jarang pergi berdua, tapi setiap ada kesempatan selalu mereka luangkan untuk pergi berdua.

"Aku baik! Aku juga sangat merindukanmu! Kenapa tiba-tiba pulang? Aku dengar dari Mbok Mei waktu ketemu di supermarket tadi," jawab Lian.

"Kejutan! Kejutan untuk semua orang. Kemarilah, aku ingin memelukmu."

Lian menghampiri Rose dan memeluknya.

"Aku bawa kue kesukaanmu, bagelen. Aku beli di supermarket tadi, setelah aku bertemu Mbok Mei."

"Woa, terima kasih! Yang paling besar pula, kau memang sahabat yang oke," jawab Rose sambil mengecup pipi Lian.

"Kamu sibuk, Rose? Apa yang sedang kau lakukan?"

"Tidak juga. Aku sedang membuat rencana bisnis yang aku ingin lakukan di sini."

"Rencana bisnis? Kau tidak bekerja lagi?"

"Tidak. Aku ingin di sini, mengembangkan usahaku sendiri yang sesuai dengan minatku. Tapi, kau jangan bilang siapa-siapa dulu! Ini top secret!"

"Siap, Nyonya! Dan apa rencana besar itu? Boleh aku tau?"

"Tentu saja! Aku justru memerlukan bantuanmu. Tapi tunggu beberapa waktu lagi, aku perlu mematangkan rencana ini. Kamu harus meninggalkan pekerjaanmu di pabrik tas itu dan menjadi partner bisnisku,"

"Memangnya aku mau?"

"Kau harus mau! Aku tau kamu, Lian sayang. Kamu tidak menyukai pekerjaanmu. Kamu hanya mengambil kesempatan yang ada di depan mata dengan iming-iming gaji besar. Dan yang paling penting, orang tuamu pasti juga setuju."

"Lalu apa kamu bisa menjamin kalau aku akan menyukai ide bisnismu ini?"

"Seratus persen, sayang! Seratus persen! Tunggu dan bersabarlah sampai aku siap mempresentasikan ide ini."

"Baiklah, Rose. Aku akan menunggu, aku sangat penasaran! Tapi aku harus segera pulang. Aku meninggalkan adonan donat untuk dikembangkan di rumah. Kau tau sendiri kan apa yang terjadi bila terlalu lama mengistirahatkan adonan donat?"

"Haha... Ya, ya, ya. Pulanglah. Jangan lupa untuk kirim donat-donatmu kemari,"

"Pasti! Bye, Rose!"

*****

Bersambung ke chapter 5…

Senin, 15 September 2014

Nightfall Kiss - Chapter 3

Lampu merah membuat kumpulan kendaraan berhenti. Seorang gadis berambut panjang mempercepat langkahnya di atas garis-garis besar berwarna putih di jalan. Hujan deras beberapa saat lalu membuat jalanan basah, air menggenang di beberapa sisi jalan yang tidak rata, mengotori sepatu bertumit kecil Si Gadis. Cuaca yang dingin menemani langkah kakinya untuk kembali pulang. Pulang ke rumah, tempat segala kenyamanan berada.

Perjalanan jauh tidak membuatnya ingin cepat-cepat sampai di rumah. Dia tetap berjalan pelan, menikmati rintik hujan yang membasahi rambut dan tubuhnya. Rintik yang mebuat bercak - bercak basah di bajunya, tudungnya, dan tasnya. Dia tidak membenci hujan, dia berteman dengan hujan, dengan bau tanah basahnya, dan dengan sejuknya.

Di ujung jalan, beberapa tukang ojek berebut menawarkan jasa. Mengharap rejeki dan bonus membonceng wanita cantik. Gadis itu tetap berjalan, tak menghiraukan ojek-ojek itu. Alih-alih memilih ojek agar cepat sampai, gadis itu memilih becak dengan tukangnya yang sudah tua. Tak apalah, ini memberikannya waktu untuk sedikit mengenang jalanan ke rumahnya. Melamun dan sedikit bernostalgia pada jalan yang sering dulu dia lewati untuk pergi ke sekolah, ke pasar malam bersama Ibu, dan banyak lagi yang telah dia lewati.

Dan terlihatlah rumahnya, rumah di mana segala kenyamanannya berada. Rumah itu besar tapi sederhana, tidak banyak dekorasinya, bercat putih, dengan pagar hanya setinggi dada. Halamannya tidak terlalu luas tapi asri dipenuhi kembang. Sedikit menahan nafas ketika membuka pagar rumahnya. Di sini, di rumah ini, di segala kenyamanannya berada, dia akan memulai lagi segalanya dari awal. Tanpa luka, tanpa sakit hati, tanpa Edward.

 
 ***

Rose membuka pagar rumahnya, melangkah pelan sambil mengulang kata-kata yang dia susun untuk bicara pada Ibunya, dalam hati. Bu, aku berhenti bekerja, aku ingin di sini, menemani Ibu, biar Ibu gak kesepian. Aku sudah ada tabungan cukup untuk memulai usahaku sendiri di sini. Aku ingin seperti Ibu dan toko kue Ibu, memberi kesempatan orang lain untuk mencari rejeki bersamaku. Terus dia ulangi alasan-alasan itu untuk dia bicarakan pada Ibunya, agar tak ada rasa khawatir timbul di hati Ibunya.

Di depan pintu putih rumah masa kecilnya, Rose terpaku. Seperti film, potongan gambar masa kecilnya bergiliran berebutan tempat di otaknya, memenuhi sisi visual kenangannya. Saat senang ketika Ibunya membelikan pita rambut baru, saat menangis kala Sang Ibu memarahinya karena bermain hujan, saat dia terjatuh dari kursi kayu di teras rumahnya, tanpa sadar sebutir air mata jatuh mengalir di pipinya. Aku pulang, Bu. Aku pulang, rumahku. Suara langkah kaki dari balik pintu membuatnya harus berhenti dari lamunan kenangan. Cepat-cepat dia menghapus air matanya. Tepat saat itu, pintu terbuka.

"Loh, Non? Lagi liburan? Kok, Ibu tidak bilang-bilang kalau Non Oce pulang ke rumah ya, biar Mbok masak yang Non suka?" Mbok Mei, nama aslinya Maemunah, pembantu setia Ibunya yang sudah bekerja di rumah ini puluhan tahun, bahkan sebelum Rose lahir.

"Oce memang belum kasih kabar ke Ibu, Mbok. Biar Ibu kaget, Mbok. Hehe...", dengan tawa yang dibuatnya Rose menjawab Mbok Mei, meski hatinya tetap menangis.

"Owalah.... Yowes, masuk dulu, Non. Ibu masih di toko, Non, sebentar lagi pulang. Mbok buatkan teh hangat dulu ya? Tanpa gula kan, Non? Mau pakai melati atau jahe?"

"Ih, Mbok Mei ini, sudah tau aku tidak pernah suka teh jahe. Pakai melati saja, Mbok. Taruh di taman belakang saja. Agak panas ya, Mbok? Aku mandi dulu sebentar", katanya sambil melangkah masuk menuju kamarnya.

"Hehe... Beres, Non".

Rose membanting badannya ke tempat tidur, merasakan nyamannya kamar yang selalu dia rindukan. Kamar di tempat kosnya dulu tidak senyaman ini, jendelanya kecil, menghadap jalanan di luar yang berisik pula. Di sini jendelanya besar, menghadap ke taman cantik kesayangan ibunya, yang penuh dengan mawar. Mawar, asal mula namanya yang indah dan nama yang dibanggakannya.

Menikmati semilir angin di tempat tidurnya membuat Rose mengantuk. Kalau saja dia tidak teringat untuk membersihkan barang-barangnya, mungkin dia sudah tertidur. Buru-buru ia beranjak, merapikan sedikit barangnya. Dia tidak membawa banyak barang, hanya tas ransel untuk barang pribadinya. Barang-barang lain seperti baju dan buku, dia kirim melalui paket yang mungkin akan sampai di sini besok atau lusa. Baju-baju lamanya pun masih banyak dan tersimpan rapi di lemari. Setelah merapikan barangnya, Rose bergegas mandi.

Dengan bersenandung kecil di depan cermin Rose menyisir rambutnya. Gaun terusan pendek putih dengan pita biru melekat di tubuhnya yang ramping. Tidak memerlukan solek yang tebal atau perhiasan mahal, Rose sudah cantik dari sananya. Mata bulat, perawakan ramping, rambut hitam tebal, mirip ibunya. Hidung mancung, bibir tipis, serta kaki jenjang diwarisinya dari ayahnya, Frans.

Jumat, 12 September 2014

Nightfall Kiss - Chapter 2

'Criiingg ...', seorang wanita tua memakai terusan pink pastel memasuki toko tempat Edward membantu pamannya.

"Selamat datang di Joe Bakery, ada yang bisa saya bantu, Nyonya?", sapa Edward pada pengunjung keduanya hari ini. Bahasa Prancis Edward cukup bagus, dia pernah mengikuti kursusnya di Indonesia. Paman Joe, suami bibinya yang asli orang Prancis juga selalu menggunakan Bahasa Prancis untuk bicara dengan Edward, kalau tinggal di Paris, biar tidak kaget, katanya.

"Kamu anak baru, ya?", jawab wanita itu, nadanya arogan dan berat.

"Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu? Anda mencari cake atau roti untuk sarapan, mungkin?", jawab Edward.

"Di mana Joe? Aku tidak mau dilayani orang baru!!", suara wanita itu sedikit meninggi. Edward merasa tersinggung, harga dirinya terusik. Edward sudah membuka mulut hendak menjawab, tapi pamannya yang tambun muncul dari belakang merangkul bahunya.

"Apa kabar Nyonya Abella? Senang bertemu dengan Anda lagi. Anda terlihat cantik hari ini, Nyonya", sapa Paman Joe ramah. Tangan Paman Joe sedikit meremas bahu Edward, membuat Edward meringis.

"Aku baik. Aku yang cantik atau kau hanya basa-basi saja?"

"Tentu, Anda cantik, Nyonya. Warna baju Anda sangat cocok dengan matahari pagi. Mari kutemani memilih kue untuk sarapan Anda", Paman Joe melepaskan tangannya di bahu Edward dan berjalan menuju Nyonya Abella. Paman Joe sedikit menoleh ke Edward dan mengerlingkan mata.

Edward cukup bijak untuk menahan emosinya, suatu prestasi untuk dirinya sendiri. Edward terbiasa dilayani dan dihormati, tapi di sini Edward harus belajar melayani dan menghormati orang lain. Edward berjalan menuju ke bagian belakang toko, mengambil air dingin dan meneguknya segera, berharap air dingin ini bisa mendinginkan kepalanya. Inilah bekerja, Ed! Kau harus tau itu!, bentaknya pada dirinya sendiri.

Saat Edward kembali ke toko, Paman Joe sudah sendirian menghitung uang kasirnya. Nyonya Abella sudah pergi. Mendengar langkah kaki, Paman Joe menoleh. "Hi, Ed!", sapanya pada Edward. Nadanya selalu ceria dan senyum selalu merekah dari bibirnya.

"Beginilah bekerja, banyak sekali tipe pengunjung yang menyakitkan hati seperti itu. Yang tadi belum seberapa, sih... Masih banyak godaan lain. Yah, anggap saja mereka kue, ada yang pakai saus yang asin, bedak gula yang manis, atau kismis yang asam, tinggal pilih dan makan saja", Paman Joe tertawa mendengar leluconnya sendiri. Edward berusaha tersenyum kecil.

"Kau harus belajar menghadapi segala jenis keadaan dalam menghadapi pengunjung, Ed. Kau bisa memujinya, katakan saja dia cantik, walau jalannya seperti itik", Paman Joe tertawa sembari menyenggol lengan Edward pelan. Edward ikut tertawa kecil.

"Oh, tidak! Jangan menahan tawa! Wajahmu akan menua dibanding umurmu!", sembur Paman Joe pada Edward. "Kau akan menjadi seperti ini", Paman Joe memanyunkan bibirnya dan berjalan bungkuk-bungkuk. Edward tertawa, tertawa keras bersama pamannya.  Untuk beberapa saat Edward melupakan rasa sakitnya. Untuk sebentar dan meski hanya untuk sebentar.

Bersambung ke  Chapter 3

Senin, 09 Juni 2014

Nightfall Kiss - Chapter 1


Gerbang utama di mansion bergaya klasik itu terbuka, sebuah mobil mewah memasuki halaman depan yang luasnya cukup untuk dijadikan kompleks perumahan. Lelah sekali hari ini. Urusan di kantor sangat menyebalkan, sepertinya gadget yang sedang menjadi trend di kalangan karyawan membawa penurunan dalam kinerja mereka. Kebijakan baru harus segera dibuat, kalau tak ingin kualitas perusahaan semakin menurun.

Frans masuk ke kamarnya sembari melongarkan dasi, seperti biasa sang istri tidak ada di sana. Nyonya kaya itu sedang 'meluaskan jaringan', begitu yang selalu dikatakannya.Yang menurutnya 'meluaskan jaringan' adalah arisan para ibu-ibu sosialita yang menghabiskan uang banyak demi pamer derajat.Dasar anak orang kaya, batin Frans.

Air hangat beraroma terapi telah disiapkan para pelayan.Frans membuka baju dan melemparkannya begitu saja di lantai kamar mandi. Tak perlu repot-repot menaruh baju kotor di keranjang cucian, toh nanti para pelayan yang setia akan membersihkannya. Frans menggosok tubuhnya dengan garam mandi, berharap bisa sedikit melemaskan urat-uratnya yang kaku.Andai saja aku tak menikah denganmu, hey anak orang kaya, tentu sekarang ada yang menggosok dan memijat aku. Lagi-lagi Frans memaki istrinya dalam hati.

Sepertinya mandi memang melegakan otot-ototnya yang lelah, Frans merasa lebih santai sekarang. Celana piyama dan kaos polos abu-abu dipilihnya sebgai kostum favorit saat di rumah. Bayangannya terpantul dari cermin besar, mebuat bersyukur, di usianya yang sudah kepala lima, tubuhnya masih tegap dan bagus. Bugar dan prima memang diperlukan untuk seorang pengusaha seperti dia yang sangat padat jadwal.

Frans memasuki ruang kerjanya.Gelap.Frans mengernyit bingung, biasanya tak pernah segelap ini.Selalu ada cahaya meski remang.Ah, mungkin pelayan lupa menyalakan lampu, sambil meraba-raba untuk mencari sakelar. Saat lampu berhasil dinyalakan, Frans hampir melompat karena terkejut.Seseorang duduk di kursi kerjanya, menatapnya tajam dan tegas.Tidak, bukan tegas, itu tatapan amarah yang siap untuk meledak sewaktu-waktu.Mata itu milik anaknya, Edward.

"Edward? Apa yang kau lakukan di situ, nak? Kamu mengejutkan papa!"Frans berucap sembari berjalan menuju rak buku.

"Setya Ningrum," Edward berkata dengan suaranya yang tegas dan misterius.

Buk! Buku yang telah dipegangnya terjatuh, Frans kaget setengah mati.

"Apa, nak?" mengira dia salah dengar.

"Setya Ningrum," Edward mengulangi.

"Ka... Kamu tau dari mana mengenai dia?"

"Jadi benar kalau dia, Setya Ningrum, adalah kekasih papa yang papa tinggalkan 23 tahun lalu?!" setengah berteriak Edward bertanya sekaligus memberi pernyataan pada papanya.

"Dari mana kamu tau itu?"

"Tidak penting aku tau dari mana.Katakan saja, benar atau tidak papa telah mengenal wanita itu dan meninggalkannya 23 tahun lalu untuk menikah dengan mama?"

"Iya, benar.Aku meninggalkannya untuk menikah dengan mamamu. Tapi semua itu karena..."

"Cukup, Pa! Aku tidak perlu mendengarkan apa-apa lagi!!!"Edward berdiri menghentakkan kaki, keluar dari ruang kerja papanya dan pergi dengan marah.Edward membanting pintu dan meninggalkan papanya dalam kebingungan.Hentakan di pintu mengejutkan Frans.Frans memanggil-manggil anak laki-lakinya.

"Ed! Mau ke mana, kamu?Kenapa kamu marah karena hal ini?"Frans berusaha mengejar anaknya.

"Harusnya Papa tanyakan itu pada diri Papa sendiri!"Edward menjawab sambil lompat masuk ke mobil mewahnya. Mobil sports warna merah itu melaju kencang melewati halaman. Melewati pintu gerbang yang terbuka otomatis untuknya dengan kecepatan tinggi.

Frans melihat kepergian anaknya dengan bingung.Seperti film yang terputar, kenangan 23 tahun lalu muncul lagi di kepalanya.23 tahun lalu, dia meninggalkan Ningrum, kekasih yang sangat dicintainya dengan sepenuh hatinya, untuk menikahi Tera, mamanya Edward, dengan berbagai alasan.Hatinya hancur saat itu, mengetahui bahwa dia tidak menikah dengan kekasih yang dicintainya.Kehancuran itu terus berlangsung sampai sekarang, Frans tak pernah bisa melupakannya. Frans tidak akan memafkan dirinya sendiri.


* * * * *


Frans kira anaknya akan pulang dalam dua atau tiga hari, karena dia biasa kabur dari rumah dan menginap di rumah temannya atau di hotel. Tapi ini sudah satu minggu dan tak ada kabar apa-apa darinya.Ponselnya tidak bisa dihubungi, bahkan beberapa temannya datang ke rumah mencari anaknya.Di hari kepergiannya, mobilnya di temukan di pinggir jalan tanpa Edward di dalamnya.Frans juga tidak terlalu khawatir, karena Edward juga pernah melakukannya sebelumnya, meninggalkan mobilnya di pinggir jalan dan pergi dengan mobil temannya.Polisi yang memeriksa mobil itu pun juga menyimpulkan tidak ada tanda-tanda yang mengarah ke kejahatan.Polisi menyimpulkan mobil itu sengaja ditinggalkan.

Kekhawatiran mulai menjalari seluruh rumah.Tidak biasanya Edward seperti ini. Edward memang anak manja yang selalu seenaknya sendiri dalam bertindak, tapi dia juga akan selalu kembali ke rumah tidak lebih dari tiga hari setelah bersenang-senang. Frans mulai dilanda panik.Tera yang sedang di luar negri segera disuruhnya pulang untuk mencari anaknya.

Segala upaya dilakukan, termasuk mendeteksi penggunaan kartu kredit Edward.Tapi Edward tidak melakukan transaksi apapun dengan kartu kreditnya.Dan ini benar-benar seperti bukan Edward.Biasanya, Edward selalu banyak menggunakan kartu kreditnya untuk bersenang-senang saat di luar rumah.Dalam kecemasan seperti ini, Frans tidak nafsu bekerja, dia siaga di rumah menunggu kabar terbaru.

"Permisi, Tuan, maaf mengganggu, ada telepon dari bank," seorang pelayan memberikan telepon tanpa kabel padanya.

"Terima kasih," Frans menerima telepon itu dan memberikan seuntai senyum untuk pelayannya itu.

"Ya. Saya Frans Wijaya"

"Selamat siang, Pak. Kami memberikan informasi yang Bapak minta untuk transaksi atas nama Saudara Edward Akea Nugraha. Surat dari kepolosian sudah kami terima dua hari lalu untuk memproses informasi ini," suara dari seberang telepon didengarkan Frans seksama, "yang bisa kami informasikan adalah Saudara Edward Akea Nugraha telah melakukan penarikan tunai dalam jumlah yang cukup besar pada tanggal 02 Juni 2013".

Dua Juni, itu tanggal Edward pergi dari rumah, batin Frans.

"Tarikan tunai dilakukan langsung di salah satu cabang kami. Untuk jumlah transaksi dan informasi selengkapnya mengenai transaksi tersebut akan dikirim melalui e-mail Anda, paling lambat 20 menit dari sekarang. Sekian informasi dari kami.Ada yang bisa kami bantu lagi, Pak?" petugas bank itu mengakhiri penjelasannya yang sekaligus membuyarkan lamunan Frans.

"Eh... Tidak. Terima kasih"

Tidak sampai 10 menit, e-mail masuk di ponselnya.Frans membelalakkan mata menerima informasi transaksi itu, jumlah yang sangat besar untuk bersenang-senang.Apa yang kau lakukan dengan uang sebanyak ini? Kau bisa pergi ke Eropa dan hidup di sana selama setengah tahun! Frans membatin dalam hati.Tunggu dulu! Eropa?Tentu saja. Dia pasti di sana! Frans seperti berhasil memecahkan teka-teki harta karun besar. Frans melompat dan bersiap pergi.

"Kau mau ke mana, pa?" tanya Tera, istrinya, suaranya lemah karena sering menangisi anaknya.

"Aku tau di mana Ed, tapi belum pasti.Aku akan memastikannya, kau tunggu di sini yaa?" ucap Frans yang lalu mengecup ubun-ubun istrinya.

Memasuki ruang kerjanya, mengingatkannya pada kejadian Edward marah padanya tanpa sebab yang pasti, yang jelas itu berhubungan dengan Ningrum, mantan kekasihnya.Dengan cepat, Frans mengangkat telepon menelepon dua nomor penting yang menjadi petunjuk di mana Edward.

"Hello?" suara di seberang telepon melegakannya. Suara adiknya di London.

"Jollie!Ini aku, Frans".

"Ya.Aku tau itu kau, kak".

"Edward di sana?"

"Ed? Tentu tidak.Memangnya Ed akan mengungjungiku?"

"Tidak.Kalau begitu terima kasih.Nanti kuhubungi lagi"

Lemas, Frans mulai lemas. Masih ada satu nomor lagi, Frans berharap semoga anaknya di sana. Frans menekan nomornya tergesa-gesa.Dua kali dia salah menekan nomor karena sangat gugup.Yang ketiga tersambung, Frans menunggu. Lama tak ada jawaban, Frans mengulangi panggilan. Sampai panggilan yang entah keberapa, suara di seberang sana terdengar.

"Hey, Frans.Aku tau kau akan menghubungiku," suara dari seberang telepon melegakannya sekali lagi.Keith, kakak iparnya di Paris.Dari kata-katanya, Keith pasti mengetahui sesuatu.

"Ya.Ed sedang bersamamu?"

"Tidak.Dia tidak bersamaku sekarang.Dia ada di toko membantu pamannya, aku di rumah.Kamu bisa tenang Frans, Ed aman bersama kami".

"Oh, syukurlah. Aku akan segera menyusulnya ke sana. Teri..."

"Don't Frans! Biarkan dia di sini menenangkan dirinya dulu.Kamu bisa percaya pada kami. Kami akan menjaganya. Aku tak tau masalahnya, dia belum mau menceritakannya. Aku akan memberikanmu informasi mengenainya. Bersabarlah, toh, di sini dia belajar mandiri. Perlu kau tau, Frans, dia memasukkan semua kartu kredit dan debit darimu dalam sebuah kotak, meyegelnya, dan menitipkannya padaku. Dia belajar mencari uang sendiri dengan berkerja di toko pamannya".

"Wow... Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi. Kalau begitu baiklah, biarkan dia di sana. Terima kasih, Keith.Jangan bilang aku menghubungimu.Aku titip anakku".

"Percayakan padaku, brodda".

Bersambung ke chapter 2